Cerita Panas Rumble X Riot! – Part 2

Cerita Panas Rumble X Riot! – Part 2by on.Cerita Panas Rumble X Riot! – Part 2Kelas kami mencetak rekor sebagai kelas satu pertama yang menduduki salah satu kelas dua. Otomatis, ini jadi perhatian baru bagi kelas lain, terutama kelas tiga. Mereka sering melirik ke kelas ini, kadang secara terang-terangan menantang dengan lapangan sebagai arenanya. Tapi Jon selalu bisa menahan diri. Semua sepakat, Jon lah yang jadi ketua kelas, sekaligus pentolannya. […]

tumblr_o0bv4oVI751v3qlqno7_1280

tumblr_o0bv4oVI751v3qlqno8_1280

Kelas kami mencetak rekor sebagai kelas satu pertama yang menduduki salah satu kelas dua. Otomatis, ini jadi perhatian baru bagi kelas lain, terutama kelas tiga. Mereka sering melirik ke kelas ini, kadang secara terang-terangan menantang dengan lapangan sebagai arenanya. Tapi Jon selalu bisa menahan diri. Semua sepakat, Jon lah yang jadi ketua kelas, sekaligus pentolannya. Kalau kata Jon jangan buat gerakan, semua pasti diam.

Aku juga diam-diam mulai mempelajari struktur bangunan sekolah, karakteristik tiap kelas, juga data-data para ketua kelasnya. Oh iya, ketua kelas dipilih oleh kesepakatan tiap-tiap kelas perihal siapa yang paling kuat yang ada di kelas tersebut. Makanya, siapapun yang menyandang jabatan ketua kelas, pasti dia yang ‘pegang’ kelas itu.

“Gue kangen belajar,” keluhku suatu pagi sambil berpangku tangan.

Jon, yang kini menjadi teman baikku, memutar kursi lalu duduk berhadap-hadapan. “Jangan ngarepin belajar. Pokoknya disini pasti lulus semua deh,” katanya.

“Tapi Jon, kenapa kita ga rebut kelas lain kayak yang lainnya?”

Jon merangkulku, sambil menggesekkan tinjunya pada kepalaku. “Sekarang temen gue satu ini udah ga kaku lagi ngomongnya yak. Selamet deh, waktu pertama kali disini mah elo ngomongnya kaku bener, kayak kanebo kering.”

“Sakit!” Aku meronta, berusaha melepaskan diri dari keisengan Jon. “Namanya juga butuh adaptasi! Lagi juga semua pasti ada prosesnya. Oh iya, kok ga jawab pertanyaan tadi?”

“Gue cuma ga mau ada yang bonyok-bonyok. Pokoknya intinya, jangan nyerang kecuali diserang. Jangan cari masalah, gue ga mau ada yang kenapa-kenapa.”

“Iya sih,” balasku. “Tapi–”

“Tapi kamu ga bisa sampai ke posisi paling ‘atas’ tanpa ada pengorbanan.”

Ah, Helen memotong. Dia baru saja tiba di kelas.

“Aku ga bisa ngelindungin kalian terus. Kalau kalian ga nyerang dan nguasain seluruh sekolah, kalian yang akan terus diserang,” tambah dia.

Dan semua terjadi begitu cepat. Jon berdiri lalu melempar kursi ke arah Helen. Meski Helen dengan mudah bisa menghindar, tapi karena lemparan yang kencang membuat kursi itu menghantam dinding dengan keras lalu rusak. Aku diam. Jon belum pernah semarah ini sebelumnya, apalagi karena kata-kata seorang gadis.

“Eh bangsat! Gue ga butuh elo lindungin terus-terusan! Lo emang kuat, tapi bukan berarti jadi sok paling dibutuhin! Namanya laki, bisa ngelawan. Gausah belagu, lo cuma cewek. Ga lebih.”

Helen melempar pandangan mengejek kepada Jon. Siapapun yang dipandangi begitu, pasti akan tersulut emosinya. Lalu dia menggelengkan kepala beberapa kali, dan pergi begitu saja tanpa ada kalimat balasan. Setelah Helen pergi, aku hanya bisa memandang punggung Jon yang tegap. Nafasnya turun naik, seperti berusaha mengendalikan emosi.

“Gue ga mihak siapa-siapa, tapi… Helen ada benernya, lo juga. Masalahnya, kalian mau saling ngerti ga?” kataku, memulai pembicaraan baru.

“Lo tau apa yang gue rasain, El?”

Aku mengangkat bahu. “Engga. Emangnya?”

“Gue ngerasa udah cari mati. Sok-sok emosi terus marah sama cewek paling sadis di sekolah kita itu sama aja kayak bunuh diri!” balas dia sambil tertawa putus asa. Jon menggaruk kepala, lalu menaruh sebelah tangannya di pundakku. “Lo kejar Helen sekarang. Cepetan. Sampein permintaan maaf gue ke dia, buru!”

“Kan yang cari gara-gara elo, kenapa gue yang minta maaf?!”

“Ini perintah! Turutin, kalo engga gue bikin lo diperkosa homo-homo lucuk!”

“Lo gengsi emang kalo minta maaf sendiri?”

Jon menggeleng mantap. “Bukan, gue ngeri dibantai sama dia. Makanya lo gue tumbalin, bhahahahhaaa!”

Orang ini benar-benar… ah sudahlah, turuti saja. Lagipula, aku lega. Jon memang tipikal yang tidak bisa marah lama-lama. Tipe berandal baik hati yang menjaga solidaritas daripada ego pribadi.

Aku pun menyusul Helen. Jon bilang, biasanya gadis itu suka menyendiri di bawah pohon beringin di taman belakang sekolah. Dan yap, Helen memang ada disana. Ada dibalik pohon, duduk dengan kaki ditekuk dan dagu bertumpu pada lutut.

“Hel…”

Baru saja aku ingin menghampiri lebih dekat, tapi Helen mengancamku.

“Aku jamin leher kamu putus kalo deketin aku sekarang.”

Aku ingin berjalan mundur saja ketika mendengar ancamannya. Tapi sudah sampai sini, masa harus mundur lagi?

“Tapi Jon bilang minta maaf,” kataku lagi.

“Kenapa dia ga dateng sendiri?”

“Ngg… dia,” aku menggaruk kepala yang tak gatal. Ini alasan paling konyol untuk minta maaf, sepertinya. “Katanya, takut dibantai sama kamu.”

“Cowok kok pengecut. Giliran lempar kursi bisa.”

Ada tekanan yang beda dari suara Helen. Seperti tertahan karena habis menangis. Mungkin, dia melarangku mendekat karena tidak ingin mata sembabnya terlihat. Biarpun sadis, Helen tetap perempuan. Siapapun perempuan yang dilempar kursi oleh laki-laki, pasti bisa sakit hati. Dan aku mengerti itu.

Akhirnya, aku duduk diatas rumput, temani Helen. Tapi posisi kami berseberangan dan saling membelakangi, terpisah oleh pohon beringin yang besar dan tua, juga rindang.

“Aku cuma mau yang terbaik buat kelas kita,” katanya, setelah beberapa menit kami saling diam. “Aku mau kita jadi lebih kuat. Jadi aku ga perlu ngeliat temen-temen sekelas gantian masuk rumah sakit gara-gara habis digebukin.”

Disaat seperti ini, diam dan jadi pendengar yang baik adalah sikap tepat.

“Aku harus sampe ke ‘atas’ sana. Ga peduli apapun caranya, pokoknya kita harus ada di tempat paling ‘atas’. Tadinya, aku udah mau nyerah mau mulai dari ‘bawah’. Tapi…,” Helen diam sejenak, dan aku masih menunggunya melanjutkan kalimatnya. “Pas kamu masuk kelas kita, aku ngerasa kamu akan bawa banyak kejutan. Siapa juga yang nebak kalo cowok kurus, lemah, dan penakut kayak kamu bisa ngebantuin kita selangkah lebih deket ke posisi paling ‘atas’? Ga ada, kecuali aku.

“Coba aja kamu masuk enam bulan lebih awal, aku ga akan ngerasa bosen di sekolah ini.”

Helen kembali diam, dan mungkin ini saatnya aku untuk ganti bicara. “Kamu bener-bener mau ada di tempat ‘teratas’?”

“Iya. Ada yang harus aku buktiin ke seseorang.”

“Aku janji, akan bawa kamu kesana,” kataku, meyakinkan Helen.

“Makasih. Nah, pertama-tama…”

Helen sudah berada di sampingku, lalu berdiri dan mengajakku ikut serta. Yah, arahnya sudah bisa ditebak. Ke kamar mandi.

***

“Ehm, Hel?”

Helen mendongak, menatapku. “Ya?”

“Harus ya tiap diskusi mesti begini?”

“Ohh, ga juga sih. Aku lagi kepengen aja, ga apa-apa kan?”

Aku mengangguk, antara pasrah dan terpaksa. Helen kini berlutut dan tengah menjepit penisku di belahan dadanya. Dia menaik-turunkan kedua buah dadanya yang polos tanpa tertutup bra, sambil sesekali menunduk untuk menjilati ujung penisku.

“Jadi… aduhhh, bi-bisa kamu jelasin semua yang kamu tau?”

Helen tampak berpikir, sambil dihentikannya kegiatan menjepit penisku. “Kita baru bisa menguasai sekolah ini, kalo semua ketua kelas itu akui kita. Ngalahin mereka belum tentu bikin mereka akui kita, Elang. Makanya, kalo cuma sekedar nyerang aja kemungkinan besar ga akan berhasil.”

“Terus…” aku merinding, ketika Helen kembali melanjutkan mengocok penisku dengan buah dadanya. “Opsinya apa aja?”

“Kita bisa coba dari pegang kuncian mereka, ngelobi, atau bikin mereka respek sama kita. Jadi ga mesti ngalahin tiap ketua kelas secara fisik. Tapi, jangkauan kita baru kelas dua. Soalnya, kelas dua masih kepecah-pecah, tiap kelas berdiri sendiri tanpa ada yang megang.”

“Ke…kecuali… kelas 2-B?”

“Yup!”

“Terus kelas… tiga?”

“Itu rintangan paling beratnya. Kelas tiga didominasi sama Naga, yang menguasai seluruh angkatan kelas tiga. Kalo mau lawan dia, minimal kita mesti ngalahin tiap-tiap ketua kelas tiga, sebelum nanti Naga sendiri yang turun tangan.”

Helen semakin mempercepat kocokan pada penisku. Ah, dan dia semakin menjepit payudaranya sehingga batang kemaluanku seperti dipijat dengan bantal empuk. Rasanya nikmat, apalagi melihat muka Helen yang dibuat binal, menatap lurus padaku. Aku hampir keluar, jika saja tak sekuat tenaga kutahan.

“Na… Naga itu, orangnya gi-gimana? Aduhh, Hel… mau keluar iniii….!”

“Nanti juga kamu tau sendiri kok. Pokoknya dia itu… ah, liat sendiri aja nanti. Oh iya, keluarin aja. Siram toket aku yaaa~”

Aku mencengkeram bahu Helen, lalu menyemprotkan sperma sekuat tenaga beberapa kali. Semburannya deras melumuri sebagian besar area payudaranya. Apalagi ketika Helen menengadah, menatapku sambil tertawa puas. Wajahnya benar-benar binal, dan itu terlalu menggoda…

“Enak?” tanya Helen, sambil tertawa lucu.

Aku menangguk. Nafasku memburu, dan masih berdiri terpaku dengan penis terselip diantara payudaranya. “Hel, itu makin gede aja. Perasaan dulu engga segitu ya?”

“Iyalah. Kena peju kamu terus, ya tambah gede. Seksi ya?” godanya.

“Iya sih, seksi.”

Aku memikirkan kalimat terakhir Helen tadi. Berarti dia itu hanya nakal denganku? Berarti dia bukan gadis yang selama ini aku kira. Atau, hanya aku yang berpikir setega itu?

“Oh iya, emang yang namanya Naga itu siapa? Kok kayaknya kuat banget Hel?”

Dia tersenyum, lalu sambil memakai bra, Helen berkata, “dia kakak aku.”

(Bersambung…)

Author: 

Related Posts

Comments are closed.