Cerita Sex Carpe Diem : The Next – Part 4

Cerita Sex Carpe Diem : The Next – Part 4by on.Cerita Sex Carpe Diem : The Next – Part 4Carpe Diem : The Next – Part 4 EPISODE 4 09.00 am the next day. Aku sudah terbangun sejak tadi pagi. Cecile masih tergolek di sofa tamu ku. Aku tak tahu mesti bagaimana. Beberapa kali selimut Cecile tersingkap, dan selalu kurapikan kembali, tak mau aku tergoda tubuh seksi itu. ….adduuuhhhhh…..dimana nih….aduuuhhh…. Tiba tiba Cecile terbangun […]

tumblr_nxufchyrim1ull9tto4_500 tumblr_nxufchyrim1ull9tto5_500 tumblr_nxufchyrim1ull9tto6_500Carpe Diem : The Next – Part 4

EPISODE 4

09.00 am the next day.

Aku sudah terbangun sejak tadi pagi. Cecile masih tergolek di sofa tamu ku. Aku tak tahu mesti bagaimana. Beberapa kali selimut Cecile tersingkap, dan selalu kurapikan kembali, tak mau aku tergoda tubuh seksi itu.

….adduuuhhhhh…..dimana nih….aduuuhhh….
Tiba tiba Cecile terbangun sambil mengerang, tangannya memegang kepala. Hangover…pusing. Dari pagi aku sengaja tak berani banyak membuat suara, namun sebuah motor dengan knalpot berisik lewat di depan rumahku, dan mau gak mau, memaksa Cecile bangun.

Kudekati Cecile, aku duduk di sofa seberangnya. “sill…kamu dirumahku….mAndi dulu sana…kamu bau…” kuberikan handuk dan sepasang baju dan celana pendek lisa.

….aduhh…annnn…..pusing……
Katanya setelah agak bengong memandangku dan sekeliling ruangan.
“itu ada kopi di meja…minum dulu…”sengaja aku tak langsung mencecarnya dengan berbagai pertanyaan yang berkecamuk di kepalaku. Kubiarkan Cecile sadar sepenuhnya.

Setelah meminum sedikit kopi, Cecile segera beranjak menuju kamar mAndi.
Aku meneruskan aktifitasku, mengedit beberapa pekerjaan di ruang kerjaku.

“ann…..Andii…dimana kamu…”panggilnya ketika selesai mAndi.
Kulihat, Cecile tampak segar, meski sedikit pucat. Tshirt longgar dan celana selutut dipakainya, tampak agak kedodoran.
“duduk dulu sil…aku udah buat sarapan, makan dulu….”kataku sambil keluar dari ruang kerja menuju pantry.

Kupandangi Cecile yang makan dengan lahap.
“ann…udah telpon Debby?”tanyanya
“belum sil…nunggu kamu bangun dulu….”

Tiba tiba Cecile sesenggukan. “ann….maafin sisil yaah….”katanya
“he? kenapa sil?”
“gara gara sisil….Andi putus sama cicik kan….gara gara sisil….”katanya lagi
eeeehhhh..udahlaah siiilll…udah kok….”kataku menghibur, meski belum faham betul dengan situasi.
“sill…emang ada apa sih…semalam datang mabuk, terus awut awutan behitu?” tanyaku kemudian.
“aann…dengerin ceritaku ya….

a few years ago (Ceciles pov.)

Hingar bingar pesta baru saja selesai. Tumpukan kado dan sampah kertas berserakan di taman belakang rumah keluarga toni. Tampak petugas sound system sedang membongkar peralatan suara dan lighting yang tadi dipakai. Di ujung, Debby, cicikku sedang bercengkerama dengan teman teman cowok yang tadi ikut mengisi acara ini. Kulihat mereka dengan tatapan agak iri, atau bahkan kagum ?

Pacarku, atau tepatnya mantan pacarku, hari ini tak datang setelah tadi pagi kita bertengkar hebat hingga akhirnya kita putus. Ulang tahun ke 17 ku…aku kesepian. Bukan…bukan karena putus…bukan. Aku pengen seperti kakakku, yang selalu penuh canda tawa dengan teman temannya.. yang selalu bisa tersenyum no matter what.. yang selalu tampil apa adanya di mana saja.. yang bisa menemukan tempat di mana orang orang tak menilai berdasar penampakan fisik saja.

Aku cantik..! Aku yakin itu, badanku bagus, dadaku besar, what more can a girl want. Tapi aku dibatasi olehnya. Teman temanku tak ada yang melihatku dari apa yang ada di kepalaku. Mantan mantan pacarku hanya ingin melihat dan menikmati isi bajuku..
Tak ada yang peduli dengan hati maupun pikiranku. Mantan pacarku terakhir, seminggu yang lalu lah yang terakhir menjamahku. Yah..aku memang sudah tak lagi perawan. Perawanku diminta pacarku terdahulu, setelah ketahuan memakai narkoba, aku tak lagi mau didekatinya.

Pelan pelan mulai kuangkati kado kado itu, dengan senyum kaku di wajah.
ceweeekkk…..perlu dibantu gaaakk….kata salah satu teman kakakku, Rendi sang drummer.
Di belakangnya, Andika, bassis dan vokalis, Alin guitaris, dan tentu saja cicikku Debby. Mereka mendekatiku dengan senyum lebar. Ouuuhhhh….betapa nyamannya di sana.

Dengan dibantu empat tenaga tambahan, tentu saja segera bungkusan bungkusan kado itu terangkat dari meja di depan panggung. Kuletakkan semua di ruang tengah, papa mama baru saja datang. Papa menciumku dan berkata
selamat ulang tahun sayaang…gimana pestanya ?
Papa mama ku adalah orang tua yang sempurna. They love each other so much. Bahkan, mama tahu apa yang ada di pikiran papa ketika sedang galau, dan sebaliknya.

Khusus untuk pesta ulang tahun ini, mereka sengaja hanya ikut membuka acara di awal, lalu semua diserahkan kepada kedua anaknya untuk mengelola. Biarkan ini jadi pesta anak muda, kata papa tiga hari lalu. Papa dan mama mau pesta sendiri, hihi…

Tak sampai sejam kemudian, rumah kembali sepi. Cik Debby sudah masuk ke kamar, setelah menciumku selamat tidur. Teman-teman cicik bahkan sudah pulang sejak tadi. Papa mama baru saja masuk kamar pula. Aku kembali sendirian di ruang tengah ini, dengan bergunung gunung kado di depanku.
Capek…tapi aku memilih untuk mulai membuka kado satu persatu. Barang barang mulai dari boneka, tas, sampai benda benda konyol kutemukan dari situ. Namun, ada satu yang menarik.

Sebuah kotak hitam di dalam kertas kado pink, kukira dari mantan pacar. Tapi tertulis besar disitu…untuk adikku tersayang
Kubuka segera kotak hitam beludru itu. Mungkin kalung, pikirku. Tapi bukan..!! Didalamnya dijepit indah sebuah cermin dikelilingi frame dari perak. Indah sekali…! Tapi? Cermin ? Ini terlalu biasa…ini bukan kado…hingga kubalik frame itu, kutemukan sepucuk kertas dengan tulisan tangan cik Debby.

….adikku….selamat ulang tahun…saatnya untuk menjadi dewasa….
…kado ini bukan perhiasan…bukan pula alat kecantikan…
…kado ini adalah alat…alat untuk menjadi dewasa…
Dari kakak yang menyayangimu, Deborah.

Meski aku tak begitu paham maksudnya, aku menitikkan air mata. Aku akui, selama ini aku selalu manja kepada siapapun. Siapapun itu, bahkan mama sekalipun, kalau aku pengen sesuatu tak dituruti, pasti ngambeg. Dengan segala upaya, ingin kutunjukkan kalau aku penting.
Surat di dalam kado dari cicikku itu sedikit banyak membuka pandanganku. Malam itu juga, aku segera meninggalkan tumpukan kertas kado berserakan di ruang tengah, dan kutuju kamar Debby. Kupeluk dia yang tertidur, dan aku ikut tidur di sebelahnya.

Beberapa bulan kemudian, aku diterima masuk ke fakultas ekonomi. Lingkungan baru, membuatku mulai belajar banyak. Aku lihat, cik Debby pun semakin menganggapku dewasa. Tapi sekian tahun menjadi anak manja, tak bisa hilang begitu saja. Sikapku yang selalu ingin dituruti kadang tak bisa kurubah dengan sempurna. Paling tidak, aku sudah berusaha, pikirku.

Di kampus, banyak teman yang dulu datang dari sekolah yang sama denganku. Hal itu membuatku susah melepaskan predikat lamaku sebagai cewek judes. Sehingga, temanku pun tak terlalu banyak. Tak apalah…aku masih punya cicik dan papa mama dirumah.

Ricky, kakak kelasku. Cakep. Tinggi. Pemain basket. Beberapa kali tampak sengaja tersenyum padaku. Beberapa kali pula menyampaikan secara langsung ingin mengajakku jalan. Namun hanya senyum yang kuberikan. Aku sedang tak ingin berhubungan dengan pria, lagipula desas desus mengenai tingkah laku Ricky terkenal playboy. Suka gonta ganti cewek, pilihannya selalu ke cewek cewek cantik, kaya dan gampang dibodohi.

One day, 01.15 pm

Siang itu, rumah kosong. Aku mencari cik Debby di kamarnya, kosong pula. Iseng iseng aku duduk di meja riasnya. Kulihat beberapa foto terpampang di cermin besar itu. Foto foto cicik sedang bersama teman temannya. Beberapa foto kulihat band mereka bermain di kafe, ada juga foto cicik sedang bernyanyi.
Kuperhatikan, hampir tiap foto selalu ada Andika. Bahkan ada beberapa foto terpotong yang hanya nampak Debby dan Andi saja. Aku tersenyum menyadari sesuatu.

Kubuka laci meja rias itu. Kutemukan sebuah buku bersampul tebal, diary ?
Kubuka halaman pertama, tampak foto cicik dari kecil, berdua denganku, hingga sekarang. Dipotong berdempet dempet.
Beberapa garis dan gambar Debby juga terlihat disana, warna warni.

Isinya ? Debby bukan cewek cengeng. Dia tegar, seorang cicik panutanku. Pun yang ada di dalam diarynya. Dia cewek yang kuat. Diary bukan curahan tangis seorang cewek, tapi lebih ke jurnal kegiatan dan kesan kesan yang didapatnya mulai sejak smp. Yap, buku itu memang tebal, tapi sebagian sudah di bikin index. Hmmm….cicik memang rapi. Segala sesuatu selalu matang dikerjakannya.

Beberapa kali kubaca nama Andi ditulis dengan tinta merah, kadang biru, selalu dibedakan dari tulisan lainnya. Dari berbagai tulisannya itupun tertulis betapa dia sangat nyaman dengannya. Cowok gondrong itu memang cukup ganteng, pikirku. Dan papa mama sangat suka dengannya. Orangnya tak aneh aneh, tapi lucu. Tapi, hati cowok siapa tahu, aku membatin sambil tersenyum.

Di lembar terakhir tertulis nama Ricky agak besar. Tak ada kalimat maupun kata lain. Hanya nama Ricky.

Kututup buku diary itu. Hmm…aku tak rela cicikku cuma jadi salah satu korban Ricky. Aku harus berbuat sesuatu.

Beberapa hari berlalu.
Cik Debby yang biasanya selalu pulang sebelum gelap, akhir akhir ini merubah kebiasaannya. Aku ingat, sore itu kulihat cik Debby pulang diantar motor yang tak asing lagi. Yah, motor sport itu milik Ricky. Wajah pengendaranya tertutup helm full face, namun aku yakin dari postur tubuhnya, itu adalah Ricky.

Esoknya, aku sengaja memakai baju yang cukup seksi. Kebetulan mata kuliah yang kuambil sama dengan Ricky. Kupancing dia dengan senyum senyum menggoda. Sorenya, di parkiran mobil, cowok itu mendekatiku.

sil…ehh…tunggu…panggilnya,
ya…aku pura pura tak peduli.
hnggg..mau kemana ni…katanya kemudian.
pulang kak…emang mau kemana lagi….jawabku
jalan yuk….dari dulu diajak kagak pernah mau…ajaknya
Kulihat wajahnya, tipikal wajah cowok cowok coverboy, putih, rambut cepak, tshirt ketat menunjukkan badannya yang kekar. kemana kak?tanyaku
jalan aja lah…kemana aja…

Sedan honda city warna silver, milikku, dikendarainya pelan. Akhir pekan, jalanan cukup ramai. Apalagi kita menuju ke pusat jajanan malam. Aku memakai blus putih, dengan belahan dada yang cukup lebar, meski tertutup renda-renda besar. Mini skirt coklat garis garis, semakin menampakkan mulusnya pahaku ketika duduk di mobil. Rambut panjang kugelung ke belakang dengan beberapa kelompok yang jatuh, menampakkan leher putihku. Seksi !

Selama perjalanan, nampak mata Ricky tak pernah lepas dari paha maupun dadaku yang kadang sedikit terbuka dari celah renda renda itu. Sebuah cafe mahal, dipilihnya untuk makan malam.
Aku tak tahan sebenarnya, lagak Ricky memang selalu begitu, sok keren. Tapi demi Debby, semua ini kuharus lakukan.
Telapak tanganku dicuri curi pegang olehnya ketika duduk di sofa cafe itu. Sekalian saja, aku goda dia dengan pura pura membungkuk membenarkan sepatuku, yang artinya semakin lebar terlihat belahan dadaku.
Pelan pelan, Ricky mulai mendekat. Tangannya memeluk pinggangku dari belakang.
sil….kamu seksi…katanya
Aku jawab dengan tersenyum.

Detik berikutnya, bibir Ricky sudah menempel di leherku.
ssshhh…kaakkk….jangan disini…banyak orang….sshh…desahku.
Seperti mendapatkan lampu hijau, Ricky segera menjawab. kemana yuk….katanya.
Seperti agak buru buru, Ricky segera membetulkan selangkangannya yang sedikit menggembung, lalu berdiri untuk menyelesaikan pembayaran di cafe itu.

Aku sudah duduk di dalam sedanku lagi. Kali ini, Ricky semakin nakal. Tanpa basa basi, tangan Ricky mulai menempel di pahaku. Meski sebenarnya aku agak jengah dengan cowok itu, namun kubiarkan saja. hmmm….bahkan aku pun tambah terangsang dibuatnya.
Tanganku pun tak tinggal diam. Kuelus pula pahanya yang tertutup celana jins hitam.

siillll…hangat….kata Ricky begitu telapak tangannya lancang memasuki ke dalam rok miniku. Sedikit kututup pahaku, memberi tanda menolak.
Aku membalas, tanganku kutaruh di pangkal pahanya.
Kuelus perlahan batangnya yang mulai mengeras.

…kriiikkk…..kulepas zipper celana Ricky. Batang yang keras menyembul dibalik kain putih celana dalamnya. Kuelus lagi, tampak gerakan Ricky agak kaku. Mobil sedikit bergoyang.
Ricky memelankan laju kendaraan, pantatnya diangkat, untuk memberi ruang tanganku mengeluarkan penisnya.
Digenggaman tanganku, penis coklat milik Ricky tampak mengeras. Ukurannya normal, namun sedikit panjang. Kupermainkan batang itu pelan dari kepalanya, turun ke batangnya.

Ricky tampak tak bisa konsentrasi mengendarai mobil. Dipinggirkannya mobilku, sedikit ke daerah yang sepi.
siill…..mmmmhhh…..Ricky menciumku kasar.
Kocokanku semakin cepat. Ricky agak mendongak, merasakan sensasinya.
Belakang leherku dipegangnya, lalu ditarik ke bawah.
Aku tau maksudnya.

Lidahku kukeluarkan. Ujung bulat kepala penis itu kusentuh dengan ujung lidahku. Sedikit tampak cairan pelumas kelelakiannya keluar.
Sedikit terkaget dia, ketika tiba tiba mulutku mencaplok batangnya.

…sslllrrrpppp….sllllrrrpppppp…sshhh……
Mulutku penuh di isi batang lelaki itu. Rambut ku dipegangnya, dijambak…digerakkan naik turun.
…uhukkk..uhukk…..turun sampai tersedak.

Tangan Ricky menggerayangi dadaku.
Tangan kiriku yang terbebas, memainkan bola lelaki Ricky. Kuremas remas.
Lidahku membelit belit batang nikmatnya hingga desahan Ricky semakin keras kudengar.

Ikat rambutku sudah terlepas, digantikan jambakan Ricky yang semakin keras memaksa mulutku turun mentok.
Kudorong sedikit tubuhnya, hingga aku dapat bernafas. Tapi tak lama, kembali ditarinya kepalaku kembali.

Beberapa detik kemudian, badan Ricky mengejang. Bersamaan dengan itu, menyemburlah mani cowok itu ke dalam tenggorokanku.
…uhuk…uhuk…uhukk…..tentu saja aku tersedak. Mulutku penuh terisi sperma laki laki itu. Bau dan rasanya khas. Aku mau saja menelannya, kalau saja dia bukan Ricky.
Segera kuambil tissue dan kutumpahkan semua ke sana, bercampur dengan ludahku.

Kulap wajahku, dan kupandang Ricky. Kulihat cowok itu bersender di kursi yang sudah diturunkan sandarannya.
ssshh…gile lu sil…enak bener seponganmu…kata Ricky lagi.
tau gini…bukan kakak lu yang gua deketin…lanjutnya.

Aku diam saja.
yuk … cepetan…udah malem…kataku kemudian.

Hari hari menyebalkan menyusul. Ricky merasa aku gampang didapatkannya, sering berlaku seenaknya sendiri. Namun tak pernah kuberikan tubuhku padanya. Tapi gobloknya, setiap kali jalan, selalu aku yang mengeluarkan uang, entah bensin, makan bahkan ketika handphone dia hilang, aku yang membelikannya.

Itu semua plus blow job dan sedikit raba-raba sudah terlanjur jadi biaya misiku ini. Misi ? Ya…semenjak ulang tahunku itu, misiku adalah membuat cicikku bahagia. Meski caraku mungkin mahal, tapi rasa sayangku kepada kakakku satu satunya itu mengalahkan semuanya. Aku merasa berhutang banyak pada cicikku itu. Sejak kecil, selalu dia yang mengalah padaku.

Well, paling tidak sekarang Ricky sudah tak lagi mendekati Debby. Kulihat beberapa kali Ricky menjemputku untuk berkencan dari rumah, dan saat itu juga cik Debby yang membukakan pintu. Kulihat di matanya, perasaan yang aneh. Maafkan aku cik, semua ini kulakukan untuk menjagamu. Yang membuatku sangat ingin menangis adalah, cik Debby sama sekali tak merubah perangainya. Dia relakan Ricky kepadaku. Pergulatan batin inilah yang membuatku semakin ingin menjaga kakak kandungku itu demi apapun.

Hingga suatu saat, ketika kurasa sudah cukup waktu, aku mengajak Ricky makan malam. Aku ingin putus..!
Aku jatuh hati dengan orang lain, itu alasanku.
Ricky terdiam di meja restoran itu. Memandangku tak percaya.
kenapa sill…?tanya cowok itu.
hheeehhh…..gak tau kak…kayaknya aku gak bisa meneruskan hubungan ini.
Ricky berusaha merayuku, aku tahu persis di dalam pikirannya, dia merasa belum sempurna pacaran denganku, dia belum bisa membawaku ke tempat tidur. Namun, aku sudah mantab, toh memang aku sama sekali tak ada rasa dengannya.

Lalu dengan kesal, dia pergi dari restoran ini, meninggalkanku sendirian. Fiuh….ini jauh lebih baik. Aku segera pulang naik taksi setelah menyelesaikan pembayaran.

Sherly, adalah salah satu cewek yang memusuhi aku. Yah..bagaimanapun, sepertinya cewek model sherly ini akan gampang sekali jatuh hati ke cowok macam Ricky. Bahkan ketika berita soal bubarnya hubunganku dengan Ricky sudah jadi berita umum, sherly masih saja menghindariku.
Soal gosip mengenai betapa gampangnya aku beredar pun, aku tak terlalu peduli. Aku tak peduli, apakah itu Ricky atau kelompok sherly yang menyebarkan gosip itu. Aku merasa itu semua sepadan, dengan selamatnya cicikku dari tangan playboy narsis nan matre macam Ricky.

Kemudian, datanglah kembali sosok Andi. Cowok gondrong yang cuek itu salah satu teman dekat cicik. Aku tak tahu sampai sejauh apa hubungan mereka. Aku mulai penyelidikanku dengan pura pura makan siang di kantin kampus anak anak teknik.
Sejauh ini, Andi sempurna. Tapi aku punya misi ! Aku harus mampu mencari keburukan Andi, untuk menilai patutkah dia bagi kakakku.

Aku belum sempat banyak berbuat, hingga suatu sore.. Debby yang sekarang sudah bekerja di sebuah bank, ternyata harus lembur sampai malam. Sementara papa mama sedang menghadiri sebuah acara di kota. Akupun baru saja bangun tidur, dan mAndi.

Selesai mandi….betapa kagetnya aku ketika melihat Andi duduk di ruang tengah. Kuputuskan untuk menggoda cowok itu, secara seksual. Dan aku sedikit gembira, Andi tak tergoda. Sayangnya, cicik keburu datang memergokiku tanpa busana. Aku langsung lari ke kamar. Andi pun langsung pamit pulang.

Baru pertama kali. Pertama kali bagiku menyaksikan cicikku marah. Pintu kamar ditutupnya dengan keras. Aku yang merasa bersalah berusaha menjelaskan. Tapi cik Debby tak mau menemuiku, mengurung diri di kamar. Dibentaknya aku ketika mengetuk pintunya. Aku benar benar takut. Belum pernah sekalipun cicikku marah.

Di dalam kamar aku menangis. Menangis tanpa suara. Aku salah. Ya…kali ini aku salah.
Semenjak itu, selama beberapa hari, cik Debby tak pernah menyapaku, melengos ketika kuajak bicara. Bahkan, hubungan mereka berdua bubar. Aku sangat merasa bersalah. Kepada Debby, kepada Andi dan kepada cinta mereka berdua.

Tapi, bagaimanapun juga cik Debby adalah kakakku. Setelah sekitar hampir dua minggu, akhirnya cicik sudah tak lagi marah. Namun tak pernah mau kuajak bicara soal Andi. Meski kutahu, sebenarnya cicik sangat mencintai cowok itu.

Berita mengenai DO nya Andi dan retaknya hubungan mereka membuatku semakin gusar. Aku selalu berusaha mendekati kakakku. Kutemani jalan kemanapun dia mau.

Aku sendiri sudah memutuskan, tak akan menjalin hubungan dengan siapapun sebelum cicikku bahagia, minimal menikah dengan orang yang baik. Misi yang awalnya sekedar menjaga seorang kakak, menjadi sebuah obsesi. Sebuah tujuan.! Mungkin aku berlebihan, tapi aku mewarisi darah Toni Suryantono, ayahku, seorang pengusaha ulet yang tak akan menyerah walau apapun menghadang.

Hari sabtu, 09.00 am
Rok mini merah dan hem ketat putih, seragamku hari ini. Kantorku, sebuah perusahaan telekomunikasi, sedang mengadakan pameran di mall.
Aku bertugas melayani pertanyaan dari pengunjung stand berkaitan dengan koneksi internet kami yang baru. Sales promotion girls, SPG, berjumlah 6 orang berkeliling mall menyebarkan brosur kami.

Seorang spg mendekatiku, tak tahu kalau aku karyawan tetap perusahaan itu.
“cik…tar malem dah ada yang buking belum?” tanya spg centil itu.
“he?” kupandang cewek cantik berseragam sama denganku itu. Rambut panjang, tinggi semampai.
Yang membedakan dia dan aku hanya name tag, memang sebagai spg, mereka tak diberi tanda nama, hanya bros berlogo perusahaan saja.
Tak sadar, dia mengulangi lagi pertanyaannya. Aku cuma menggeleng saja.

“cik..beneran nih….tadi om bos telepon aku, ini aku lagi dapet. Makanya aku disuruh cari ganti.”katanya lagi.
“hnggg….emang berapa mbak?”tanyaku penasaran dengan tarif dunia malam mereka.
“Kayaknya all night long nih, lumayan dapet tiga juta. Gak usah dipotong lah, gak enak kalau ketahuan bos Sonny.”

Degg…..!!
Sonny…hmmm….banyak sih nama Sonny, tapi entah kenapa, instingku bilang kalau ini gak main main. Cik Debby bilang kalau ada cowok yang sering kirim bunga ke kantornya, nama Sonny ada di tiap kartu namanya.
Ahh…mungkin cuma kebetulan, pikirku.

“sori mbak, aku ada acara nanti malem” kataku menolak.
Wajahnya nampak murung. “aduuh….tar om bos marah nih pasti…aduuuhh….”.
Kupandangi wajah spg itu, entah kenapa terucap kata yang membuatku sendiri kaget. “Habis jam 6 longgar sih…”

“great…!!! ntar ketemu di sini aja yah.”katanya sambil tersenyum lega.
aduuuhh…what have i done…sejenak aku menyesali diri.
Lalu aku kembali teringat cicikku. Ini semua demi cik Debby.

Minggu malam, 05.40 pm
Shift pagi sudah kelar jam 3 sore tadi. Aku sudah berganti memakai terusan rok mini coklat motif kotak kotak. Orang akan mengira aku mahasiswa kuliahan.
Kudapati cewek spg siang tadi ada di hall depan mall ini, tampak ngobrol dengan seorang laki laki.
“eeii…ciikk…”panggilnya begitu melihatku.
Degg….!!!

Agak ragu aku mendekat perlahan, tapi cewek itu justru mempercepat langkahnya ke arahku. Setelah berdiri persis di depanku, tanganku digamitnya sambil berbisik, “ssssttt…itu bos Sonny..bos gua…malam ini kita nemenin dia ke kota sebelah cik, dia ada tamu, ntar lu ikut aja apa kata om bos yah….”

Lelaki tegap berambut cepak itu tersenyum padaku. Aku sedikit menghela mafas lega, kayaknya dia tak mengenaliku. Karena memang tak pernah aku bertemu secara langsung dengannya.

“Kenalin cik…ini bos Sonny…punya dealer di belakang sana tuh…”
Kusambut tangan Sonny, “Lia…”kataku. Sengaja aku sedikit menyamarkan namaku. Cecilia, atau sisil pasti terlalu mudah diingat.

“yuk…langsung saja…”kata Sonny sambil matanya melihatku dari atas ke bawah.

Tak lama, kita bertiga sudah menyusuri jalan utama kota ini menuju ke kota pantai. Aku hanya diam saja duduk di kursi belakang. Cewek spg yang dipanggil Donna duduk di depanku, sementara Sonny membawa mobil sport ini dengan kencang.

“Om boss…emangnya tamunya siapa sih…kok sampai ngajak dari sini?”tanya Donna
“biasa lah doon, tamu pejabat kan biasanya selalu begitu…lagaknya kayak raja..apa apa musti dituruti…”kata Sonny
“hihi…emang si bos ini lagi gak ada stok lain? Donna kan baru dapet..kasian tuh si lia, kayaknya belum pernah main ke luar kota…”kata Donna.
Aku cuma diam saja, pura pura tertidur di kursi belakang.

“yaa..habisnya mendadak banget sih, tadi kontak cewek cewek pada habis dibuking…tinggal elu don… udah tau kalo pasti elu gak mau, kan belum ada seminggu elu pamit liburnya.”kata Sonny.
“yeee..untungnya nemu lia nih…cakepkaaann….”kata Donna menggoda.
“iya don…pinter lu nyarinya..tar aku mau dong…besok besok yah….”kata Sonny lagi.
“yeee….trus aku dikemanain dooongg…”kata Donna
“kan bisa barengan tuh…ya kan”goda Sonny.
“yeeeeeee……tapi om, jangan sampe ketauan cewek om tuh…sapa yang kata om kerja di bank?”kata Donna
“yeee…kalau itu mah baik baik don….ngajak ketemu aja ngeles mulu…padahal udah aku kasih kalung sama anting…eehhh…besoknya di balikin….”ujar Sonny.

Dugaanku hampir terbukti, ini Sonny yang pdkt ke ci Debby. Aku tahu karena cicik yang mengajakku mengembalikan pehiasan itu ke toko.
” jangan jangan masih virgin ..eh tapi tar lama lama juga luluh om…apalagi kalo udah ngerasain ini nih…”Donna berkata sambil mengusap pangkal paha Sonny.
“hahahaha…..”Sonny tertawa agak keras.


10.00pm
Aku memasuki sebuah ruangan yang cukup besar, dengan lampu kerlap kerlip. Musik hingar bingar menghentak hentak. Donna menggamit lenganku, mengajak menuju satu lorong.
Beberapa pintu berjajar di sana, tertulis di masing masin daun pintu, nomor mulai satu sampai sekitar tujuh atau delapan.
Lorong itu cukup gelap, lampu penerangan berwarna merah menyala redup di ujungnya. Sonny berjalan di depan, menuju ke pintu ke tiga sebelah kanan, dengan tulisan Vip 5.

Setelah mengetuk, pintu itu segera terbuka. Di balik pintu terlihat seorang wanita berpakaian minim. Hmmm…tepatnya bukan pakaian, tapi bikini.
Ruangan itu begitu berbAnding terbalik dengan suasana di luar.
Terangnya lampu, dan jendela besar menghadap pantai, serta suara musik yang mengalun pelan. Higar bingar di ruangan kuar sama sekali tak terdengar begitu pintu itu tertutup.

Ruang karaoke. Begitulah fungsi sebenarnya ruangan ini. Sebuah tv layar lebar ada di tengah dinding, di seberangnya meja marmer dan sofa panjang berwarna hitam. Ada satu pintu lagi, yang ternyata adalah toilet.
Di ruangan itu, selain kami bertiga, sudah ada dua orang laki laki dan satu orang perempuan yang tadi membukakan pintu.
Diatas meja marmer, beberapa botol minuman keras dengan berbagai merek sudah berkurang isinya. Beberapa gelas tampak tak beraturan.

“sonn…wah,..cakep betul temen ente…”seorang lelaki berkulit gelap tampak berdiri menyalami Sonny.
“iya laaah pak…Sonny memang ahlinya nyari temen…”balas Sonny.
Disebelahnya tampak seorang yang sudah cukup berumur, dengan perut buncitnya, tampak sudah mulai mabuk.

“duduk sini manis…”kata pria gendut itu memanggil Donna.
Aku yang berdiri di belakang Donna jadi agak rikuh begitu tahu om itu meminta Donna duduk di pangkuannya.
Sementara cewek yang tadi membukakan pintu sibuk mengatur sound dan mennyiapkan beberapa lagu.
“bapak bapak, ini semua pesanan sudah siap, ada lagi yang bisa saya bantu”katanya kemudian.

“yeee..mbak kalau mau bantu beneran,nya disini sajaa…gak usah balik ke luar…”kata pria gendut itu.
“maaf pak, sudah peraturan, kami gak boleh lama lama di dalam kalau masih tugas jaga…nanti kalau memang bapak mau, bisa minta ke operator lewat interkom.”jawab cewek itu sambil senyum menggoda.

Tak lama, cewek itu kembali memakai tshirtnya yang tadi tergeletak di depan meja. Hmm…kayaknya cewek tadi sudah sempat memberi suguhan striptis kepada dua pria ini.

Sepeninggal cewek tadi, Sonny segera duduk di samping pria berkulit gelap itu sambil ngobrol nampak serius. Sementara Donna sibuk menuangkan minuman keras ke sloki sloki kecil di meja.
“ayo omm…lagii…”
pria gendut yang dari tadi sudah memerah wajahnya itu masih saja menyorongkan bibirnya ke arah tangan Donna yang membawa sloki itu.

Donna kemudian berdiri dari pangkuan pria gendut itu. Mendekat ke player, lalu memilih lagu dengan beat kencang. Dengan posisinya yang membungkuk ke arah depan, tampak jelas bulatan sekal pantat seksi Donna yang sengaja menggoda pria pria di sofa.

Pria gendut itu bertepuk tangan, sambil berusaha meraih pantat Donna untuj dicolek. Tapi, Donna pura pura menghindar, yang malah membuat om itu semakin penasaran. Pria berkulit gelap yang nampaknya memang belum begiu mabuk tertawa keras melihat ulah temannya itu.

Sonny segera mencolek lenganku, dan berbisik, “lu ikut Donna sana…nari yah…”
Aku ragu ragu berdiri. Donna melihat kode yang diberikan Sonny, lalu menuang wiski ke sloki kecil dan menawarkannyanke aku.
Akan tampak aneh kalau aku menolak, palin tidak supaya sedikit relaks, aku habiskan juga isi gelas kecil itu.

Minuman mahal, terasa hangat di tenggorokan, lantas secara perlahan naik ke kepala, enteng…!!
Aku berdiri ke depan menghadap jendelan arah pantai, lalu mulai bergoyang pelan mengikuti ritme musik. Donna segera mendekatiku, berdiri di belakang dan mengikuti gerakanku. Tangan Donna merabaku pelan, dari perut turun ke paha, naik lagi. Setiap kali tangan Donna naik, rok miniku seakan tak tersengaja tertarik ke atas, menampakkan paha mulusku.

Tangan Donna terus naik, hingga mencapai pangkal bawah payudaraku. Aku meringis, kepalaku mendongak hingga ke bahu Donnanyang sedikit kebih tinggi dariku. Kedua tanganku bergerak ke belakang, berusaha meremas pinggul cewek semampai itu.

Tak dinyana, bibir Donna mendekatiku.
Lidahnya keluar, meraba bibirku berputar putar.
Telapak tangannya sudah mulai meremas dadaku pelan.
Shittt…im horny…damn it…

“sssttt….cik…mereka udah mau mulai tuh….”Donna berbisik.
Kulirik sofa panjang itu, ketiga pria itu tampak memperhatikanku dengan pandangan gemas. Pria buncit yang kira kira sudah berusia 40an lebih itu malah tampak sudah mengeluarkan batang lelakinya.
Donna mendekatinya, lalu berjongkok persis di depan selangkangannya. Segera, penis yang tampak tak begitu besar itu sudah habis masuk ke dalam mulut Donna.

Rambut panjang Donna tampak diremas remas pria itu. Pinggulnya menyentak nyentak ke atas. Kepala Donna pun naik turun dengan cepat.
Pria buncit itu sudah begiu terangsang, terlihat dari remasannya ke kepala Donna yang begitu erat.

….HHOOOUUUSSSSHHHHHHH……..pria itu mengerang panjang…bersamaan dengan ditekannya kepala Donna ke selangkangannya. Donna tampak menelan mani lelaki itu. Entah sengaja atau tidak.

Aku yang masih berdansa mengikuti musik mulai memanas. Entah apa semata karena minuman keras tadi, atau memang aku terangsang..
Belum mulai aku melepas baju, pria berkulit gelap itu memanggilku dengan kode melambai. Aku mendekat perlahan, kubuat sesexy mungkin.

Sonny tampak mengelus perlahan celana panjannya tepat di pangkal pahanya. Pria berkulit gelap di sebelahnya masih tampak datar saja.
Aku mendekat.
Pria itu mengulurkan tangannya. Dengan sekali gerakan, pinggulku ditarik ke arahnya. Kepalanya persis di tengah dadaku yang masih tertutup baju.
“eehhh…..”kataku kaget.
Aku tak sempat berbuat apapun, ketika tangan pria berkulit gelap yang besar itu segera merengkuh pahaku, membukanya ke samping dengan cepat.
Aku terduduk di badannya, dengan posisi paha membuka tertahan kedua tangannpria itu. Jemarinya segera menggerayangi celana dalamku yang sudah tersingkap.
Kurasakan pangkal pahaku begitu gatal. Aku mengeluh dan mendesis.
…heesssshhhhhh………

Kancing bajuku digigitnya hingga putus. Segera tersembul belahan dadaku persis di depan wajahnya.
Geli…wajah yang kasar di sekitar pipinya membuatku geli.
Aku menggelinjang. Mendesis.

….sshhhhhh…….ooosshhhhh…..
Jemari besar pria itu mulai menggerayangi pantatku. Direngkuhnya celana dalamku dari kedua buah pantatku, ditariknya keatas, hingga tarikannya menekan klitorisku dengan kencang.
….ooooohhhhh…..aku menghela nafas kaget.
Permainan tangan yang aneh itu, entah bagaimana, merangsang kewanitaanku dengan cepat. Ditarik dan dilepas, membuat klitorisku seakan ditekan dan dilepas. Sementara lipatan sayap celana dalamku masuk ke antara bibir vaginaku hingga ke belahan pantatku. Aneh..agak nyeri…tapi sensasi ini membuatku terangsang. Kewanitaanku gatal, mulai kugoyang pinggulku, turun.

….wow….tonjolan itu begitu besar. Kurasakan sesuatu dibalik celana pria itu lebih besar dari yang pernah kuhadapi.
Kugesekkan pelan pinggulku ke bawah. Wajah pria itu masih datar saja, meski selangkangannya semakin membesar. Dan aku yakin, batang itu besar sekali.

Ketiakku diangkat dengan kedua tangannya, membuatku sedikit berdiri.
Kurasakan dorongan pelan dari tangannya mengarahkanku untuk membelakanginya. Kuputar badanku menghadap monitor di dinding. Pinggulku dipegangnya, sekali lagi punggungku didorongnya hingga hampir terjatuh.

Aku berpegangan pada coffe table marmer di depanku, namun dengan pinggul masih tegak ditahan tangan kelar pria berkulit gelap itu. Sonny memberi kode ke pria itu unuk menunggu di luar. Dia cukup tahu diri, sebagai penyedia jasa, tak pantas baginya ikut menikmati hidangan bersama tamu. Meski aku yakin sekali, Sonny pasti sudah sangat terangsang.

Aku menungging, dengan tangan di ujung meja marmer, sementara pantatku persis di depan pria berkulit gelap itu. Telapak tangannya yang cukup besar menepuk halus pantatku…plak….

…eehhhsssss…..aku mendesis kaget.
Diulangnya beberapa kali, hingga kali ini tangannya menarik celana dalamku ke bawah. Aku yakin, bibir vaginaku sudah basah, persis ada di depan pria itu.

Jemarinya meraba dari batas pantatku, turun kebawah hingga ujung klitorisku. Pelan, namun sangat terasa. Aku sedikit menggigil geli dibuatnya. Desahanku semakin keras.

……oooouuuuhhhffffssssssss………pekikku tertahan ketika kurasakan jari pria tu menusuk ke dalam vaginaku dengan cepat. Jari itu bergerak gerak di dalam vaginaku, seakan mencoba mengorek keluar cairan wanitaku.

Bukan lagi desahan, aku sedikit berteriak ketika mau tak mau orgasmeku segera dipaksa datang dengan cepat.

….aaaaaaaahhhhssss…………..sssshhhhhhh….. ..
Kakiku melemas, namun pinggulku masih dipegang menahan ambrugnya badanku ke bawah. Jemari itu masih menari di dalam lubang kenikmatanku. Aku menggeleng geleng, menikmati setiap gesekan jari itu.
Jari itu mulai maju mundur keluar masuk. Aku terdongak ke depan.

….ahs…ahss…ahhss…….
Tiba tiba dalam dua atau tiga detik gerakan itu berhenti. Belum sampai aku ambrug, tangan kekar itu menahan pinggulku.

…ooouuuuuhhhhhhsssss…a.aaaarrrgghhhhhsssssssss ……..aku memekik kaget.
Sesuatu yang besar menusukku dari belakang. Pria berkulit gelap itu mulai memasukkan batangnya ke dalam kewanitaanku.
Benar….besar dan keras.
Dua detik kemudian, belum sempat aku megambil nafas dari kekagetanku, pria itu mulai mendorong dan menarik pingulnya.

…ahss…ahhhss,…ah…ah…ah…ah…ah…ah… ah…ah…ah…ah…ah…..
Pompaannya begitu keras. Aku sampai terdongak mencoba mengambil nafas yang sempat tertahan beberapa kali.
…ooouuussss…….rambutku ditariknya ke belakang…dan dengan cepat batang itu dipompa dengan cepat dan dalam. Bagian bawah perutku terasa ngilu tiap kali tusukannya dalam.

….ooouuuuuuuussshhhhh….aku mengeratkan jepitan vaginaku, menandakan orgasmeku kembali datang. Rambutku semakin ditarik ke atas, bagian bawah leherku persis di dagu ditarik ke atas. Aku berdiri, meski pantatku masih sedikit menekuk ke belakang, terpatri pada batang pria berkulit gelap itu.

Tak diberi kesempatan lama menikmati orgasme keduaku, pria itu memompa pinggulku dengan cepat.

…cpok…cpok…cpok…cpok….ah…ah…ah…cpo k….cpok….
Suara aduan kulit pantatku dan pinggulnya bersahutan dengan desahan atau kebih tepat disebut pekikan kenikmatanku.

Posisi berdiri ini susah, kakiku sudah lemas, namun pria berkulit gelap itu seakan tak peduli. Pinggulku ditahannya kuat, dengan tangan kiri masih memegang daguku yang mendongak.
Pompaanya tak berkurang sedikitpun, keras-cepat-dalam.
Aku sampai terlonjak lonjak dibuatnya.

…ooowuuuuuuuhshshhhhh….aaammmmpouuunnnnnnsshhh hh…..
Aku menyerah, hampir tak bisa mengambil nafas lagi. Sengatan orgasme lagi lagi melandaku. Tubuhku ambrug di lantai. Akhirnya pria itu melepaskan badanku.

…aaauuuhhhhhhhsss.s……kurasakan sensasi ngilu saat batang besar tu terlepas dari jepitan vaginaku. Aku masih bersimpuh di depan meja marmer, bajuku masih terpasang meski awut awutan.

Kulirik keadaan pria itu. Batang penis yang beaar masih tegak mengacung. Pria itu menjambak rambutku lagi, menarik ke arahnya. Aku paham maksudnya, kubuka lebar mulutku. Aku tak tahu, cukupkah mulutku menerima batang itu.

…pluk…pluk….batang hitam besar itu dipukulkan ke pipi kanan ku. Lalu sedikit dipaksa masuk ke dalam celah bibirku.
Batang itu dilesakkan ke dalam mulutku, menyentuh sisi dalam pipiku. Baru setengahnya. Didorong dan ditarik beberapa kali.
“lick my dick…”kata pria itu.
Kuleletkan lidahku di kepala bundar penis itu. Tangan pria itu mengarahkan batangnya, hingga lidahku ada di bawah penisnya. Dalam satu gerakan, lagi lagi penis itu dilesakkan.
Aku tak menyangka mulutku mampu menerimanya. Namun, batang itu melesak dalam. Tangannya sedikit memegang leherku, lantas pinggulnya mendorong ke depan.

….bbrnhhhhhhhj…uuhuuuukkk..uhuuukkk..aku tersedak.
Kulihat pria tu sedikt tersenyum. Diulangnya lagi, namun kali ini aku sudah siap. Kulonggarkan tenggorokanku sebisa mungkin. Batang keras itu kembali melesak lesak.
Beberapa detik, aku tak kuat. Kudorong pinggulnya agak penis itu memberiku kesempatan bernafas.

……ssshhhhhh……hhhhjhj………
Pria iu bekum selesai. Tubuhku diangkat, lalu direbahkan di sofa. Lututku dipegang dari arah dalam, hingga pantatku terangkat naik. Rok miniku jatuh menutupi sebagian wajahku. Tampak pria iu tak peduli.

….ooouuusshshhhhj…….aku tak bisa bergerak, batang itu dilesakkan ke dalam vaginaku dengan cepat.
…ah…ahhss…aaahhhshssss………aku hanya hisa mengerang dan mendesah keras.
Batang keras itu begitu dalam melesak ke dalam tubuhku. Bola lelakinya menampar nampar pantatku.
Tak berapa lama, pegangan tangannya melonggar, membuat kakiku bisa turun. Namun dengan cepat, pria berkulit gelap tu kembali mengangkat kepalaku dan menariknya hingga aku terduduk, lalu dengan cepat penisnya sudah ada di dalam mulutku.

…..aaaarrrrrrrgggghhhhhhhhhh…..sssshhhhhh….. pria berkulit gelap iu mengeran keras. Penisnya yang keras tampak membengkak si dalam mulutku.
….sssrrtt….sssrrtt….srrrtt…..srrrtttt….s rrrttttt……
Mani lelaki tinggi besar itu keluar di dalam mulutku. Sangat banyak, hingga tak cukup kutampung di dalam mulut.
Pria itu kembali menarik daguku keatas, lalu dalam sekian detik menutup hidungku. Mau tak mau sperma lelaki itu kutelan sebelum aku tersedak kehabisan nafas.

Aku hampir muntah. Pria itu tampak beristirahat di sebelahku sambil tangannya masih mengurut pelan penisnya. Kulirik, gila…besar betul batang itu, dan meski sedikit menurun ketegangannya, namun terlihat kalau penis itu masih perkasa. Aku sendiri tak yakin, berapa kali aku orgasme tadi.

Aku berdiri menuju toilet untuk membersihkan diri. Celana dalam sengaja tak kupakai, sudah terlalu basah, pasti tak akan nyaman.
Setelah mencuci muka dan sedikt merapikan rambut. Aku keluar dari toilet, kulihat Donna masih berktar dengan penis pria buncit itu.

Penis itu tampak berdiri tegak, namun Donna tampak kewalahan. Mungkin karena agak mabuk, sehingga cewek itu tak mampu memberikan servis yang memuaskan.

Pria berkulit gelap itu kembali melambai ke arahku. “sini cantik….enak betul tubuhmu…”
Aku cuma tersenyum kecut mendengarnya.
Aku duduk di antara dua pria itu. Baru saja pantatku kuletakkan, tangan pria berkulit gelap itu sudah memegang leher belakangku, lalu menariknya ke arah penis besar itu.

Pelan pelan kujilati keliling batangnya, turun hingga ke bola kejantananya, lalu naik lagi. Semua hanya menggunakan lidah dan bibir.
Sejenak aku kaget ketika dua tangan Donna meraih kakiku yang masih di posisi duduk. Diangkatnya, hingga pinggulku menungging di atas sofa.

Belum sempat aku menengok melihat apa yang terjadi, satu batang kembali mengisi liang kewanitaanku. Tak sebesar milik si berkulit gelap, namun cukup menggaruk dinding kemaluanku di dalam hingga aku terlonjak lonjak.
Donna gantian membantuku memberikan rangsangan ke pria berkulit gelap itu, karena aku kehilangan konsentrasi karena sodokan oenis di kewanitaanku.

…ah..ah..ah….ah…ah…ah…ah…ah….
Aku terlonjak lonjak merasakan dorongan penis pria buncit itu. Sementara di depanku, Donna memberikan tanda menolak ketika pria berkulit gelap itu ingin meyetubuhinya.

Pria berkulit gelap itu mendengus, lalu berdiri mendekati pria buncit itu. Nampaknya,ria berkulit gelap ini lebih berpengaruh, segera pria buncit itu melepaskan penisnya dari vaginaku.

…..ooouuuwwwwssshhhhhh….aku mendelik ketika penis besar berkulit gelap itu kembali menyodok kewanitaanku.
Si pria buncit tampak masih penasaran denganku. Posisiku yang seperti irang merangkak, membuat pria buncit itu ingin mendekat kearah wajahku.

….eehhhhhhsss,,eehhhhhhrrr….eehhhhhhrrr……d esahanku tak tertahankan meski penis pria buncit itu juga memompa mulutku.
Nampaknya, kali ini, dengan dibantu Donna, penis itu segera menyelesaikan tugasnya.
Kali ini kepalaku sedikit didongakkan, hingga mani pria buncit itu berhamburan ke arah wajahku. Donna tampak mengocok penis u dengan erakan yang cepat.

Aku tak begitu mempedulikannya, karena getaran getaran orgasme mulai melanda tubuhku dari sodokan di bagian bawahku.

….aaauuuuuuuhhhhsssssssrrrhhhhhhhhhj………kep alaku segera ambrug ke sofa ketika rasa itu datang dengan tiba tiba.
Lemas sekali rasanya. Pria berkulit gelap itu tampak sedikit mengurangi pompaannya, lalu melepas penisnya dari vaginaku.

Setelah tenaga sedikit terkumpul, aku duduk. Kuambil sloki berisi minuman keras itu, kutenggak sekaligus. Kutuang lagi, hingga setidaknya tiga sloki mengisi kekeringan tenggorokanku.

Dona tampak menjilati batang tegak pria berkulit gelap itu, aku inin segera menuntaskannya. Aku berdiri, melepas semua kain di tubuhku. Akhirnya aku telanjang bulat..

Aku melangkahkan kakiku, mengarahkan penis besar itu, lalu pelan pelan menurunkan pinggulku. Kulesakkan sedalam mungkin. Baru kulihat, pria berkulit gelap itu mendelik keenakan. Kugoyangkan pinggulku pelan, namun kucengkeram kuat penisnya di dalam vaginaku.
Maju mundur, pinggulku seakan terpatri ke pahanya. Batang yang tadi tampak perkasa, sekaran teggelam dalam bibir vaginaku. Rasa penuh san sesak memenuhi liangku. Agak susah memang untuk bergerak.

…ooouuushhhhhhhiiittt….enak beneeerr….ssshhhhh……pria itu menggumam.
Goyanganku semakin cepat….semakin cepat…tanganku meremas sendiri puting dadaku. Aku tak kuat
..ahhs….ah…ah…aahhhsss……aku mengejang lagi…kali ini rasanya kuat sekali..tubuhku bergetar getar….

Pria berkulit gelap itu menambahkan sensasi dehgan mendorong pingguknya naik turun. Orgasme kali ini terasa lama sekali, tubuhku sampai menggigil.
Pria berkulit gelap itu tentu saja semakin terangsang melihatku.

Kuangkat badanku setelah yakin kuat berdiri. Aku segera lemas menggelosor di lantai karpet itu. Donna segera mengambil kendali. Mulutnya naik turun memaksakan diri menelan batang itu.
Rambut Donna dijambak dan ditarik dalam dalam bersamaan dengan lenguhan pria itu. Kembali, Donna dipaksa menelan mani pria.

Aku masih lemas, ketika pria buncit itu mengambilkan baju dan membantuku memakainya. Paling tidak 3 sloki lagi kutenggak malam itu.
Seperempat jam kemudian, pintu diketuk, masuklah cewek seksi tadi sambil membawa nampan berisi bon. Nampaknya, malam sudah berakhir.

…fiuh….meski tak akan mau mengulanginya, tapi kuakui, malam ini benar benar aku menikmatinya.

Donna kembali membantuku bangun, lalu mambawaku keluar ruang vip itu. Kepalaku pening bukan main. Donna mengajakku untuk menginap bertiga dengan Sonny, tapi kutolak. Aku memilih untuk kekuar sendiri, naik taksi. Saat kuraba tas kecilku, kurasakan amplop tebal ada di dalamnya. Kuambil dompetku, kutunjukkan sebuah alamat kepada sopir taksi yang sudah siap.
Satu alamat yang kubawa saat emergency, entah kenapa, aku yakin soal satu nama itu. Andi…!!—–end of cecilia’s pov—

Aku mendengarkan cerita sisil dengan mengangguk angguk. “sill…aku telefon Debby yah…sisil musti cerita semua ke Debby..”
Cecilia memandangku, lalu menunduk kulihat bahunya bergetar.
“jangan sampai ketahuan papa mama lah…kasian mereka…tapi sisil juga harus jaga diri…”aku menambahkan, sambil tanganku memencet mencet handphone.

…tilulit……..tulilut…..tanda sms masuk.
“mas anndiiii….hari ini mau kemanaa….mampir paradise yaa..” sms dari nina. Kutelepon dia, kukatakan kalau aku mau pulang ke luar kota, mengantarkan cecile yang semalam nginep di rumahku.
Belum sempat kuceritakan duduk perkaranya, nina malah sibuk merengek ingin ikut. Kulirik cecile, kulihat dia melamun, pandangan matanya kosong. Ah, biarlah…biar ada temen pulang nantinya, pikirku

Author: 

Related Posts

Comments are closed.