Cerita Sex Tentang Nona. – Part 2

Cerita Sex Tentang Nona. – Part 2by on.Cerita Sex Tentang Nona. – Part 2Tentang Nona. – Part 2 Untuk Nona. “Pertemuan kedua” Aku duduk di kursi kayu dengan meja bulat kecil berbahan sama. Ada kursi kosong yang sedang menunggu dihadapanku. Aku duduk diantara beberapa kursi dan meja lain yang tidak terlalu penuh oleh manusia. Ruangan berbentuk segi lima dengan 3 dinding kaca. Salah satu tempat yang nyaman buatku. […]

Tentang Nona. – Part 2

Untuk Nona.

“Pertemuan kedua”

Aku duduk di kursi kayu dengan meja bulat kecil berbahan sama. Ada kursi kosong yang sedang menunggu dihadapanku. Aku duduk diantara beberapa kursi dan meja lain yang tidak terlalu penuh oleh manusia. Ruangan berbentuk segi lima dengan 3 dinding kaca. Salah satu tempat yang nyaman buatku. Kedai kopi. Aku suka kopi. Ada hal hal yang indah antara aku dan kopi. Dan aku mencintainya. Entah apa dia yang aku tunggu suka dengan kopi. Lagipula di tempat ini menyediakan beberapa menu minuman selain kopi. Jadi aku tak perlu khawatir akan itu.

Aku datang sepuluh menit lebih awal dari jadwal janji kami. Aku tidak suka ditunggu. Aku lebih baik menunggu. Karena ditunggu hanya akan membuat diri resah dan membuat yang menunggu gelisah. Jadi, aku memilih menunggu.

Semesta berpihak padaku. Hujan turun. Aroma tanah, candu para pecinta semerbak menembus dinding dinding ruang ini. Seolah tak ada batas antara tempat aku menunggu dengan trotoar dan kaca yang basah oleh curahan air langit. Aliran air menetes deras di dinding kaca bagian luar, tepat di hadapanku. Seolah bangunan ini meleleh, atau menangis. Menahan rindu. Atau bersuka cita merayakan rindu yang beradu. Entahlah, apapun yang dirasakan oleh sekitarku mungkin sama dengan apa yang kurasa disini. Atau berbeda. Entahlah. Aku hanya menunggu. Menunggu ia yang mulai menyita rinduku.

Aku terlalu khusyuk melamunkan hujan yang syahdu. Hingga aku tak menyadari kursi didepanku telah terisi. Sedikit memundurkan diri karna terkejut, aku kemudian tersenyum.

“Eh, maaf.. Gak tau kamu sudah dateng non, Hehehehehe…” Ku garuk kepalaku yang kurasa sama sekali tidak gatal.
Ia yang dihadapanku hanya tersenyum dan berujar pelan
“Dasar…”
Hmhhh… Suaranya. Kembali aku mendengar dan bertatap mata dengan dia. Nona. Iyah, ini pertemuan keduaku dengan Nona. Nona-ku.

Sore ini ia menggunakan celana kain warna abu abi dengan kaos bergambar kunci. Jaketnya sedikit basah oleh hujan. Rambut ikalnya yang lebat juga nampak sedikit basah.
“Maaf non, kamu jadi kehujanan. Maaf..” Kutatap matanya, bola dunia itu.
“Halah. Gak papa.. Hujan aer ini…” Lanjutnya seraya melepaskan jaket dan meletakkan di kursi sebelahnya.
Mataku tak lepas menatap lurus kedepan. Sosok wanita ajaib yang tiba-tiba mengisi cerita hidupku ini masih saja tak berhenti membuatku kagum. Ini bukan tentang keindahan paras ataupun kemolekan tubuh yang ia punya. Ataupun tentang mata yang berpendar kegelapan misteri yang menghisap seluruh jiwa. Bukan, ini bukan tentang hal-hal yang demikian. Tapi kekagumanku adalah tentang dirinya secara keseluruhan. Sikapnya, pola pikirnya, uniknya, anehnya, misterinya, dunianya, semua ini tentang dia. Seutuhnya. Aku sendiri tidak tahu banyak tentang dirinya. Kami cukup kenal secara formal tapi belum pernah membongkar hidup masing-masing seperti layaknya pasangan apapun di dunia. Mungkin itu karena kami memang bukanlah pasangan. Kami hanya dua manusia yang mengambil pilihan lalu menjalaninya dengan spontan. Aku juga tak pernah bertanya banyak tentang dia dan hidupnya. Begitu juga sebaliknya. Tapi aku cukup tahu tentang bagaimana hidupnya. Bukan aku menghakiminya, tapi aku bisa merasakan apa yang telah ia lalui dalam hidup dari cara ia berbicara dan menggunakan pikirannya. Tapi itu cukup untuk aku raba, tidak untuk aku telusuri dengan detail. Karena jika memang ia berkenan, maka kelak ia akan banyak bercerita denganku. Untuk saat ini hanya ini yang kami punya. Dengan segala keterbatasan, melaju kencang mendobrak aral. Kesederhanaan ini tidak untuk dimengerti. Aku hanya perlu belajar untuk menikmati setiap detik yang sudah diberi. Karena kami sudah memilih jalan untuk ditelusuri hingga kelak muncul pilihan lain yang mungkin akan merubah kesederhanaan ini. Entah melenyapkan atau melapangkan.

“Cukup puas hanya dengan menelanjangiku dengan tatapanmu itu, atau kamu mau aku menelanjangimu dengan aku ada diatasmu?” Kalimat datar nan menyesakkan, gurauan kecil khas dirinya membuyarkan lamunan sesaatku tadi. Aku tertawa dan kembali menggaruk kepala yang tak kunjung gatal. Dalam hati mengatakan “iya aku mau itu”

“Hehehehe, iya iya.. Ak dah pesen. Kamu mo pesen apa? Biar ak panggil pelayan” kusodorkan daftar menu yang ada.
“Emmm….” Ia bergumam, melirik menu sejenak kemudian menghujaniku dengan tatapan. Lemaslah aku oleh matanya.
“Emmm… Gak ada yang aku mau di daftar ini..” Ia mengembalikan daftar menu kepadaku. Aku bingung. Sedikit panik karna aku yang memilih tempat ini. Akan sangat tak nyaman jika ia ternyata tidak menemukan sesuatu untuk dipesan.
“Maksudnya? Masak gak ada non. Wah, ak dah terlanjur pesen neh. Gak enak kalo kudu cancel. Emang kamu pengen apa sih? Aku cari deh ntar di sebelah sebelah sini…” Aku sedikit kagok.
“Hmm… Ya emang gak ada yg suka masak aku mo pesen? Mubazir dong! Mau tau yang aku pengen? Lagipula gak akan ada di sebelah-sebelah sini.. Percuma juga kamu nyari…” Sedikit ketus. Khas dia memang. Dan aku menarik nafas panjang.
“Yaela, sebut dulu kek ntar aku cari dah mpe dapet… Buat kamu non, apa yang enggak?” Aku nyengir dengan tolol.
“Hahahahaha, dasar lelaki! Udah gak usah repot.. Yang aku pengen ada didepanku kok. Aku pesen kamu campurin keringetmu ma keringetku mpe abis bisa gak? Aku mau itu…” Ia mengerlinh nakal, menggodaku, sengaja ia lakukan untuk membuatku salah tingkah. Karena dia tau aku suka bingung digoda demikian.
“Nona! Sialan… Dateng dateng judes sekali ngomong kocak! Sialan!” Aku lempar tissue yang kuremas dari tadi menunggu ke arahnya. Kami tertawa. Dan tawa kami mengiringi hujan yang berenti. Bersama itu pesananku datang. Single espresso. Kopinya, aceh gayo.

“Serius kamu gak pesen apa apa non? Klo gitu kita gak usah lama lama disini ya. Aku abisin kopi ini bentar. Trus kita cabut..” Kemudian aku mendekatkan gelas kopi kecil itu ke hidungku. Kuhirup aromanya. Kupejamkan mata sejenak. Aku tersenyum. Lalu kutenggak separuhnya, kembali aku tersenyum dengan mata masih terpejam. Aku biarkan beberapa detik itu tubuh, pikiran, dan hatiku berebut reaksi kopi dalam diri. Kusedot sisa-sisa kopi dalam mulut. Kutarik nafas lalu kubuka mata. Hahhh…. Sllrpsss.. Hmhhh… Selain orgasme, bagiku ini adalah salah satu nikmat yang tak terkira. Seketika jantungku berdegup kencang. Tulang belakangku seolah tegang dan memaksa mataku bekerja dengan maksimal. Terang.

“Harus ya macam gitu kalo minum kopi? Dan gula? Mana gulanya? Mana enak minum kopi tanpa gula? Nih aku kasih gula…” Dengan santai nona merobek saru sachet gula ke dalam kopiku. Aku yang masih menikmati reaksi kopi dalam tubuh seketika tersentak.
“Loh, non!” Terlambat aku mencegah. Gula sudah berenang dan mencair dalam kentalnya kopiku. Dan aku meredam gemas, bukan amarah. Gemas yang akan kulampiaskan segera. Kupecahkan tawa.
“Hahahahahah, nonaaa! Usil banget sik! Udah tau ini kalo aku ngopi gak pake gulaaa!” kuaduk saja kopiku.
“Hehehehe, kamu terlalu lama.. Ayo cepett…” Ia mengemasi barang dan bergerak seolah hendak beranjak dari kursi.
“Loh loh loh, iyah bentarr…” Slrpsss.. Kutandaskan sisa kopi yang tercampur gula tadi. Kuletakan selembar rupiah lalu ikut beranjak dari kursi.

Tangannya menggandengku, panas wajahku dibuatnya dan ia menyadarinya. Sesaat kemudiania berkata
“Tumben gak bilang kangen aku…” Ia kembali melepaskan kerlingan menggoda. Dan aku mengalihkan pandangan sejauh mungkin darinya. Tak mau aku tertangkap basah sedang dilanda malu oleh gurauannya.
Kami kemudian tertawa.
Kupanggil satu taxi lalu kami menaikinya. Kusebutkan nama hotel tempat aku menginap hari itu. Lalu dengan cepat kukecup bibirnya. Kulumat sejenak. Kubelai pipinya. Beberapa detik. Lalu kulepas serangan mendadak itu. Hening tidak lebih dari tiga detik. Kemudian ia memukulkan tasnya ke pundakku. Aku tertawa tanpa suara. Mengacuhkan nona yang sedang melotot matanya. Heehehe…
Tak lama, taxi mendekati hotel kami. Dan hujan ternyata kembali. Sore itu hujan mengantar kami. Menemani langkah kami dan menyanyikan sunyi dalam kebersamaan kami. Kembali.

=============================================

*To be continue*

Author: 

Related Posts

Comments are closed.