Cerita Sex Kini hidup telah sepenuhnya berubah

Cerita Sex Kini hidup telah sepenuhnya berubahby on.Cerita Sex Kini hidup telah sepenuhnya berubah  Chapter 10; Bahagialah.. Terlahirnya seorang putra yang kuberi nama Dias Brilliant Pratama itu menjadi suatu kebahagiaan yang luar biasa buatku. Apalagi aku bisa merawatnya, sungguh luar biasa. Tentunya kehidupan baru sebagai single parents dan ayah yang siaga siap menantiku. Ya, aku tak ingin menikah sebelum Dias mengijinkanku. Butuh waktu yg lama memang, apalagi Dias […]

 

Chapter 10; Bahagialah..

Terlahirnya seorang putra yang kuberi nama Dias Brilliant Pratama itu menjadi suatu kebahagiaan yang luar biasa buatku. Apalagi aku bisa merawatnya, sungguh luar biasa. Tentunya kehidupan baru sebagai single parents dan ayah yang siaga siap menantiku. Ya, aku tak ingin menikah sebelum Dias mengijinkanku. Butuh waktu yg lama memang, apalagi Dias masih sangat kecil, dan lagi perasaanku kepada Erlin masih begitu besar, sulit untuk melupakannya.

Kadang aku masih bermimpi hidup bahagia bersama Erlin dan Dias. Mimpi bodoh yang selalu membuatku nyaman dalam berkhayal. Ah, jika melihat keadaan sekarang, memang begitu naif caraku bermimpi.

Semenjak kehamilan Erlin dan mulai bangkitnya aku dari kegagalan hubungan bersama Erlin. Aku mulai berpikir tentang calon anakku saat itu, aku tak berpikir dapat merawatnya, tapi setelah Mamahnya Erlin menelponku dan memberitahu jika aku yang akan merawatnya Dias, aku sangat antusias untuk hal itu. Sangat bangga tentunya.

Kini hidup telah sepenuhnya berubah. Aku siap menjalani kehidupan yang baru ini. Sebuah anugerah indah yang tuhan berikan. Cinta ini memang kuat, aku tak dapat memilikinya. Namun aku dapat meraih sebagian kecil yang hidup dari besarnya cintaku terhadap Erlin. Yaitu, Dias..

“Impianku adalah untuk mencari kenyamanan dalam hatiku, Bersamamu.
Hal itu bahkan lebih buruk dari hidupku,
Aku mungkin bisa meninggalkannya, tapi pasti aku akan menemukannya lagi,
Sekarang, tidurlah dalam damai.”

*****

~10 Tahun kemudian~

Kini hidup semakin terasa indah. Semakin, walau 10 tahun ini perjalanan hidupku bersama Dias tanpa kehadiranmu. Aku menyesali itu. Tapi apa daya, ini semua sudah berjalan. Yang pasti ku tahu dan kuyakini kau bahagia di jalanmu. Bersama lelakimu yang bukan aku. Ya.. Bukan aku. Bukan Dendi.

“Dias cuma mau ayah sama bunda selalu ada disamping Dias,” itulah harapan Dias yang besar. Dia selalu mengucapkan itu disaat hari ulang tahunnya. Kalian tahu. Aku sakit mendengarnya. Ya, sakit bila mendengar permintaan anakku yang tak bisa ku penuhi. Aku ingin. Tapi kenyataan enggan.

“Tuhan. Setidaknya berilah aku sedikit harapan. Egoiskah?” Aku selalu mengucapkan itu saat mengingat Erlin.

Ehm… Ya, Erlin. Kami memang pernah bertemu dan Dias juga tau kalau Erlin adalah ibunya. Di umur yang sudah menginjak 10 tahun ini. Dias sanggup memahami keadaan kami. Dia selalu bersedih saat melihat wajah ibunya yang selalu menyedihkan saat bertemu. Akupun.

~3 Bulan lalu. Ulang Tahun Dias.~

“Ayah, Bunda. Dias selalu senang ketika Dias ulang tahun. Karena Dias akan menjadi seperti anak kecil lainnya. Mereka yang selalu berkumpul bersama kedua orang tuanya. Dias merasa seperti itu. Dias tahu rasanya mengenal kebahagiaan. Dan itu indah. Sangat indah. Andai….” Dias memang bawel, tapi kata-katanya itu cukup membuatku ingin menangis.

Erlin menangis mencium pipi Dias. “Sayang, bunda juga sangat ingin seperti itu. Tapi kamu tau kan keadaannya. Bunda selalu berharap kamu mengerti, dan tumbuh menjadi sosok yang hebat seperti ayahmu. Bunda minta maaf karena bunda tidak pernah menjadi ibu yang baik untuk kamu, sayang. Tapi percayalah, bunda selalu mencintai kamu. Bunda selalu ada di tiap senang dan sedihmu, sayang,” Aaaah.. Kata-kata Erlin ini cukup membuatku semakin benci dengan kenyataan.

“Kalau ayah?” Dias bertanya padaku. “Ayah kok nangis?” Lanjutnya.

“Hmm..” Aku menatapnya. “Ayah hanya..” Aku berhenti berbicara. Aku tak kuat menahan tangis ini. Aku tak ingin merusak suasana indah ini. Aku tersenyum, aku akan mencobanya.

“Hanya apa, yah?” Dias kembali bertanya.

“Hanya..Ehm.. Ayah hanya tak sanggup melihat indahnya suasana saat ini, sayang. Ayah bahagia.” Aku tersenyum selebar-lebarnya.

Acara ulang tahun yang hanya dihadiri kami bertiga itu sangat menyenangkan. Bahagia, aku tau kami bertiga sangat bahagia hari ini. Tapi lihat.. Malam semakin larut. Perpisahan kecil siap menyambut.

“Lin, kamu bahagia?” Aku bertanya pada Erlin. Saat ini Dias sudah tertidur di pelukan Erlin. Lihat, dalam tidurnya dia tersenyum. Dias sangat bahagia.

“Sangat,” Erlin membasuh air mataku. Ingin rasanya aku memeluknya dan mati dalam pelukannya.

“Terima kasih udah jadi ayah yang baik buat Dias. Aku…” Erlin menangis, tangisannya yang memotong bibirnya untuk melanjutkan kata-katanya. Aku gantian membasuh air matanya.

Kami saling menatap.

“Thanks”. Gue lap muka gue yang basah berlapis
darah.

Mungkin si cantik mikir, ada benernya juga
omongan gue, tentang cowoknya yg menurut gue
banci.

“Jadi, maksud lo tadi apa?”

“Gue? Hmm.. Untuk bisa tau nama lo, gue harus rela
berjuang sampe kaya gini. Keren yah? Tepuk tangan
dong? Hehehehe”. Gue ajak si cantik becanda.

“Gilaaak lo, sumpah!”

“Hehehehe.. Nggak ada apresiasi nih?”

“Najisss!! Tapi, sumpah, ada yah cowok kaya lu!”

“Hahahahaha.. Ada, kan lu liat sendiri tadi…. Gue
Dendi”.

“Erlin.” Ucapnya kalem, sambil diiringi senyum yg
membuat perjuangan ini benar2 terasa indah,
walau darah masih mengalir sedikit sedikit dari
pelipis ini.

Tanganku gemetar memegang wajahnya.

Pertama. Untuk pertama kalinya gue ngerayain
tahun baru disini nggak sendirian. Ada lo disini. Dan
itu berharga banget. Kedua.. Tahun yang baru ini
pasti lebih indah. Gue yakin itu, setelah gue dapat
mengakhiri tahun baru ini sama indahnya dengan
saat ini. Tahun Depan sudah siap kembali membuka
lembaran barunya, Gue harap ada di sepanjang
tahun ini.. lembaran tahun ini berisi tentang
kebahagiaan-kebahagiaan tentang kita berdua.
Seperti saat gue menutup lembaran tahun ini
dengan kisah tentang kita. Guueee Gue
menjelaskan dengan lirih apa arti dari maksud
omongan gue sebelumnya tentang 2 momen yang
berharga untuk gue. Diakhir penjelasan, mulut gue
kaku.. grogi menyerang. Gue tatap wajah cantiknya
berharap dapat menghilangkan Grogi gue. Sungguh
cantik kamu malam ini, Lin. Sungguh, aku rela buta
agar aku tak pernah lagi melihat keindahan yang
lain selain kamu. Karena aku yakin, keindahanmu
dimataku tak akan pernah hilang walau aku buta
sekalipun. Aaaaaaahhh!!

Kok muka lu jadi sedih gitu sih, Den. Gue belum
ngerti deh, sama penjelasan lo tadi.. Jiaaaahh!!
KETEPRRRUUUKKK!! Mendengar omongannya tadi
serasa abis digampar sama nyamuk gue. Mana
mukanya dia cengo gitu. Aelah..

Hmmm.. Gue cinta sama lu, Lin. Deeeeeggg!! Tiba-
tiba bibir gue mengucap itu, tanpa meminta
persetujuan hati ini. Jantung gue makin kencang
berdetak. Bayang-bayang sedang menunggangi
Kuda gila tetiba aja muncul memenuhi pikiran yang
tetiba juga berasa panik.

Semakin mendekat. Wajah kami semakin dekat.

Gue cinta sama lu, Lin sampai kapanpun. Hanya
itu yang dapat gue ucapkan.. Gue sangat-sangat
bahagia sekali saat ini.

Gue juga, Den. Kamulah Lelakiku. Balesnya
menerangkan kalau gue ini adalah lelakinya,
sekaligus menjelaskan kalau saat ini juga, kita
berdua resmi sebagai pasangan kekasih. Aaaaahhh..
Thanks God.

Sebuah pelukan lah yang mampu menyiratkan
kebahagiaan kita berdua saat ini. Dan beberapa
teriakan dari dalam net membuat kita berdua makin
tersenyum puas. Tersenyum penuh kesiapan
menanti perjalanan baru menuju kebahagiaan baru.

Ehm.. tapi suara kamu, ancur banget sumpah!
BAHAGIALAH!!

Aku rindu hangat bibirnya.

Dan.. “Bleeeessshh!!.. Aaaaaaahhh!! Kita berdua
mendesah berbarengan.

“Oouugghh!! Sayang, kamu apain memek aku.
Enaaaakk.. Ah.. Enaaaak!!” Erlin mendesah
keenakan. Padahal wajahnya masih dalam ciuman-
ciuman gue.

Setelah hampir 15 menit menikmati percintaan
pertama kami. Akhirya kita berdua keluar
berbarengan. Dan.. Semprotan peju gue telah
memenuhi rahimnya.

Bibir kami bersatu. Ya, akhirnya kami kembali, ehm.. Maksudnya seperti kembali. Mata kami berdua memejam. Merasakan indahnya sentuhan ini. Tapi…

“JANGAN COBA-COBA SENTUH ANAK SAYA LAGI!!
SEKARANG JUGA KAMU PERGI!! BANGSAAT!!
BUUUUUUKKK” sebuah makian mengusir dan
sebuah tendangan yang mengarah telak ke perut
gue ini menandakan kesabarannya yang sudah
meledak-ledak itu sampai pada akhirnya.

AAAAAAAAKKKK!! Aku melepaskan ciumanku. Erlin menatap bingung. Lho.. Lho.. Kenapa harus kejadian itu yang tiba-tiba mampir disaat seperti ini. Sial!!

“Kenapa?” Erlin bertanya.

“Enggak, enggak. Ini salah, Lin,”

“Aku tau. Terus?”

“Bukan itu. Ini salah, kenapa saat kita ciuman tadi. Yang kebayang sama aku malah sosok gahar ayah kamu. Takut aku,”

“Ih.. DENDIIIIIIIIII..” Kali ini wajah Erlin yang berubah menyeramkan.

“KETEPLAAAAAKKK!!, KECENTRAAAANGGG!! KETEPLAAAAAAKKK!! KECENTRAAAAAANNGG!!”

“JANGAN COBA-COBA MERUSAK SUASANA YA?” Ucapnya menyeramkan.

“Love you,” Ucapku pelan dan penuh ketakutan.

“Love you too, Lelakiku.”

“Kalian tahu. Mencintai bukan berarti memiliki dan perpisahan bukan berarti menyedihkan. Aku mencintai Erlin. Tapi aku tak memilikinya. Aku belajar sesuatu. Sesedih apapun perpisahan itu. Ada sebagian potongan kecil kebahagiaan disana. Ya, aku bahagia. Tidak.. Kita bertiga Bahagia.”

*****
Seorang anak muda terlihat sedang mengaca di mobil yang bukan punyanya.

“Heh, ngapain?” Suara perempuan teriak tepat saat anak muda itu sedang mengaca.

“Eh…” Jawabnya kikuk.

“Ini mobil lo?” Anak muda itu malah bertanya.

“Yaiyalah. Lagi lo ngapain ngaca di mobil orang?” Jawab Perempuan itu kesal.

“Oooh.. Sorry-sorry, gue ngeliat keanehan aja di kaca mobil lo.”

“Aneh?”

“Iyah, gue seolah melihat masa depan di kaca mobil lo ini.”

“Jangan aneh-aneh deh lo, mana mungkin sih!!”

“Nggak percaya? liat aja,”

Perempuan itupun lalu mengaca di kaca mobilnya. Sangat cantik, wajahnya mampu menerangi kaca mobilnya yang gelap itu.

“Nah, itu masa depan gue.” Anak muda itu berucap penuh kemenangan.

“Hah?” Sang gadis menoleh menatap kesel pada anak muda itu.

“Gue, Dias…”

E..N..D

Author: 

Related Posts

Comments are closed.